Pintu Surga Itu Bernama Hallstat

Andai di dunia terdapat surga, pastilah Hallstatt jadi pintu masuknya. Di hadapannya kita bakal merasa kecil sekaligus besar—kecil sebab merasa tidak pantas untuk menikmati keelokan yang begitu agung, besar karena pesonanya memantik imajinasi tak terbatas yang membuat kita lupa lagi berpijak di bumi manusia.

Mereka yang religius akan berpikiran Hallstatt merupakan anugerah Tuhan untuk memanjakan makhluk- Nya. Mereka yang puitis bakal memujanya bagaikan sumber inspirasi untuk meraut aksara. Mereka yang romantis bakal terobsesi untuk menjadikannya lokasi memadu cinta.

Hallstatt, tempat kita dapat memandang awan bercumbu dengan air disaksikan gunung itu, seragam semesta tersendiri yang tidak selayaknya sebagai bagian dari planet yang terancam musnah oleh pemanasan global ini.

Dikala saya mengunjunginya di penghujung masa dingin beberapa saat silam, Hallstatt tengah cantik- cantiknya. Waktu itu hawa telah mulai hangat. Tidak terdapat lagi angin dingin yang menyayat kulit, berubah dengan angin fresh yang lembut serta nyaman. Timbunan salju belum seluruhnya luruh dari ujung tumbuhan serta bebatuan yang berderet di sejauh gunung di sekitar danau. Dikala cahaya matahari sesekali mendatangi, deretan corak putih itu memantulkan kilau yang membuat mata silau.

Air danau jadi kaca yang hampir sempurna memantulkan refleksi benda- benda di atasnya. Hanya sesekali pada saat angin berhembus, bayangan itu nampak kabur untuk kemudian jadi jernih kembali sehabis angin berlalu. Nyaris tidak terdapat barang apa pun yang mengotori danau. Saya membayangkan ikan- ikan yang tinggal di dalamnya pastilah ikan- ikan yang bahagia, semacam Nemo serta Dory yang senantiasa bersemangat mengawali hari serta mencari tantangan baru( saya ketahui mereka tidak tinggal di danau, ini cuma contoh saja).

Tidak banyak perinci yang dapat kukenang dari tempat itu selain keindahannya. Saya tidak begitu ingat apakah terdapat banyak wisatawan yang tiba ke sana, ataupun cenderamata apa saja yang dijual di toko- tokonya. Seluruh perhatianku habis tersedot oleh kecantikan natural di hadapanku yang membuat majas hiperbola kehabisan relevansinya. Rasanya tidak adil mengalihkan atensi dari kecantikan transendental itu cuma untuk menengok hal- hal yang profan.

Lagi pula, apa peduliku tempat itu didatangi banyak wisatawan ataupun tidak? Keperluanku cuma buat menikmatinya, bukan memikirkannya. Belum lama baru saya tahu sesungguhnya tidak sedikit wisatawan yang berkunjung ke sana. Dengan jumlah penduduk tidak mencapai seribu, wisatawan yang datang saban hari melebihi 10 ribu. Seluruhnya tidak lepas dari film Frozen yang masyhur di seantero jagat serta digandrungi kanak- kanak serta remaja gadis itu. Konon latar Frozen termotivasi oleh tempat ini.

Hingga tak heran bila ribuan turis dari bermacam suku bangsa berbondong- bondong tiba menengoknya serupa gerombolan laron yang mengerubungi lampu selepas hujan. Teknologi sudah membuat nyaris tidak terdapat sudut di muka bumi yang terlepas dari perhatian manusia. Terlebih Hallstatt tidaklah tempat yang susah dijangkau. Cuma butuh 3 setengah jam ekspedisi mobil dari ibu kota Austria untuk mencapainya. Dari lapangan terbang Salzburg lebih dekat lagi, cuma satu jam. Kemudahan akses ini menjadikannya tempat wisata yang sempurna.

Begitu membludaknya turis yang datang sampai- sampai penduduk lokal kewalahan. Mereka merasa terasing di tanah sendiri. Harga- harga yang semula murah jadi mahal. Manfaat ekonomi yang diperoleh dengan membanjirnya wisatawan rupanya dibarengi dengan mudarat ekonomi yang lain. Sedangkan di negara lain para pemimpinnya melaksanakan seluruh energi buat mendatangkan turis sebanyak- banyaknya, di Hallstatt, pintu surga dunia itu, pemimpinnya malah berupaya menguranginya untuk mencari titik penyeimbang.

Bila terselip yang kusesali dari kunjunganku ke Hallstatt, maka itu merupakan durasinya yang sangat singkat. Saya bahkan tidak pernah mendatangi tambang garam tertua di dunia yang konon berumur nyaris 3000 tahun itu. Bermacam sumber memanglah mengatakan bahwa Hallstatt sudah jadi pusat aktivitas ekonomi semenjak masa Era Besi di Eropa pada abad 8 sebelum Masehi.

Membayangkan kalau tempat itu sudah ditempati manusia semenjak ribuan tahun lalu membuatku sesak nafas. Gunung dan danaunya pastilah masih yang itu- itu juga, sebaliknya manusianya sudah berubah entah berapa ribu kali. Dari sudut pandang gunung dan danau, manusia sejatinya hanyalah penunggu sementara bumi. Tetapi penunggu sementara itu sudah memunculkan kehancuran yang tidak terperi. Saya seperti memandang gunung dan danau tersedu. Rupanya hujan mulai turun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *